Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Wednesday, November 12, 2014
Tuesday, August 27, 2013
Bergantung Pada Akar Ciplukan
cicicuiit’ nada pesan hpku berbunyi. Mataku yang sudah
rapatpun ku picingkan sedikit, Alya XL….hmm, ada apa tuh anak malam-malam
begini kirim sms? Pikirku.
“Mba Arni, udah tidur belum…minta tolong bentar kalo belum
tidur” begitu bunyi pesannya.
“Belum Al…” ku balas
“Minta tolong ya Mba bentar…kan ini pelajalarannya membahas tentang ginjal…terus pertanyaannya gini, dimanakah proses augmentasi ini terjadi? Gitu…terus jawabannya apa? Mba, minta tolong cariin di internet ya, Mba…”
Tanpa pikir panjang aku langsung nyari info di Mbah google via hp jelek kesayanganku, begini katanya, “ Tahap pengeluaran(augmentasi)_ urine sekunder dari tubulus kontortus distal akan turun menuju saluran pengumpul(tubulus kolektivas). Dari tubulus kolektivas, urine dibawa ke pelvis renalis, lalu ke ureter menuju kantung kemih (vesika urinaria). “
“Belum Al…” ku balas
“Minta tolong ya Mba bentar…kan ini pelajalarannya membahas tentang ginjal…terus pertanyaannya gini, dimanakah proses augmentasi ini terjadi? Gitu…terus jawabannya apa? Mba, minta tolong cariin di internet ya, Mba…”
Tanpa pikir panjang aku langsung nyari info di Mbah google via hp jelek kesayanganku, begini katanya, “ Tahap pengeluaran(augmentasi)_ urine sekunder dari tubulus kontortus distal akan turun menuju saluran pengumpul(tubulus kolektivas). Dari tubulus kolektivas, urine dibawa ke pelvis renalis, lalu ke ureter menuju kantung kemih (vesika urinaria). “
“ketemu gak Mba?”…aih, smsku belum nyampe ya? Baiklah…aku
tanya si Mbah lagi…
“Augmentasi adalah proses penambahanzat sisa dan urea yang mulai terjadi di tubulus kontortus distal. Komposisi urine yang dikeluarkan lewat ureter adalah 96% air, 1,5% garam, 2,5% urea,dan sisa substansi lain, misalnya pigmen empedu yang berfungsi member warm dan bau pada urine.”
“Ma kasih ya, Mbak infonya. O ya….minal aidin wal faidzin ya Mba mohon maaf lahir dan bathin, kemaren2 aku sms nomer Mbak Arni gak aktif…”
“Iya…sama-sama! Habis axis di kampungku gak dapat sinyal, Al…jadi, sms ma telpon gak bisa masuk!!”
“Mbak Arni ada lagi, reabsorbsi itu apa? Pertanyaannya zat yang kadarnya meningkat pada filtrate in adalah….”
Hmm…koq jadi nanyain perginjalan ya? Bukannya tuh anak kena kanker payudara? Tapi ya udahlah…dia butuh bantuan begitu..ya udah jawab saja pertanyaannya pikirku.
“Augmentasi adalah proses penambahanzat sisa dan urea yang mulai terjadi di tubulus kontortus distal. Komposisi urine yang dikeluarkan lewat ureter adalah 96% air, 1,5% garam, 2,5% urea,dan sisa substansi lain, misalnya pigmen empedu yang berfungsi member warm dan bau pada urine.”
“Ma kasih ya, Mbak infonya. O ya….minal aidin wal faidzin ya Mba mohon maaf lahir dan bathin, kemaren2 aku sms nomer Mbak Arni gak aktif…”
“Iya…sama-sama! Habis axis di kampungku gak dapat sinyal, Al…jadi, sms ma telpon gak bisa masuk!!”
“Mbak Arni ada lagi, reabsorbsi itu apa? Pertanyaannya zat yang kadarnya meningkat pada filtrate in adalah….”
Hmm…koq jadi nanyain perginjalan ya? Bukannya tuh anak kena kanker payudara? Tapi ya udahlah…dia butuh bantuan begitu..ya udah jawab saja pertanyaannya pikirku.
“Reabsorbsi adalah proses penyerapan kembali filtrate glomelurus
yang masih bisa digunakan oleh tubuh. Bagian yang berperan dalam proses ini
meliputi sel-sel epithelium pada tubulus proksimal, lengkung henle dan sebagian
tubulus distal…..bla…bla…bla….”
“Zat yang kadarnya meningkat pada filtrate ini adalah….? Itu pertanyaannya, bukan tentang augmentasi tapi reabsorbsi…” protesnya.
“Pada proses reabsorbsi yang terjadi di tubulus kontortus proksimal, kadar glukosa, air, garam dan asam amino menjadi berkurang karena di serap kembali dimana zat-zat tersebut masih berguna bagi tubuh. Sebaliknya kadar urea makin meningkat sehingga terbentuk urine sekunder (filtrate tubulus)”
“Zat yang kadarnya meningkat pada filtrate ini adalah….? Itu pertanyaannya, bukan tentang augmentasi tapi reabsorbsi…” protesnya.
“Pada proses reabsorbsi yang terjadi di tubulus kontortus proksimal, kadar glukosa, air, garam dan asam amino menjadi berkurang karena di serap kembali dimana zat-zat tersebut masih berguna bagi tubuh. Sebaliknya kadar urea makin meningkat sehingga terbentuk urine sekunder (filtrate tubulus)”
“Ma kasih banyak infonya ya, Mbak….maaf banget ngrepotin
terus!”
“Sama2…Al, aku tidur ya! Besok aku harus bangun jam 4…”
“Iya Mbak…ma kasih banget infonya ya!”…
Dan akupun terlelap di kehangatan pulau kapuk, ketika tiba2 seorang gadis tinggi cungkring berjilbab datang menyapaku…
“Mba Arni, minta tolong sebentar cariin di internet herbal /jamu untuk penderita TBC/paru-paru,ya Mbak…!”
“HHai… Al! baiklah,…ace maxs 1 botolnya 220rb. Itu sih, gak pake herbal kali. Pergi aja ke Puskesmas/dokter…biasanya disuruh berobat jalan selama 3 bulan berturut-turut, jangan khawatir sudah ada obatnya, tetanggaku juga begitu-sembuh….”
“ini orangnya lumpuh, Mbak…”
“Panggil saja mantri atau bidan,…mereka pasti tau obat paru2…ada yang murah ada yang mahal, tinggal pilih…kecuali lumpuhnya mungkin obatnya susah….!!!!”…kataku sok tahu.
“Kenapa aku nanya herbal, Mbak…soalnya gak ada biaya sama sekali…aku lagi nyari2 tanaman obatnya, tapi sekarang agak susah di dapat tanamannya Mbak…”
Oke…sekali lagi aku tanya si Mbah, “Ciplukan…direbus dengan 3-5 gelas air, disaring, diminum 3X sehari satu cangkir…atau bisa juga daun sirsak”…jawabku
“iya itu Mbak yang aku maksud, tanaman ciplukannya susah sekali nyarinya. Terima kasih ya, Mbak! Meski aku sendiri sakit tapi aku pengen nolong orang sakit juga Mbak!” katanya
“Nyarinya ke pegunungan atau ke pesawahan coba…”saranku
“Iya Mbak…aku gak tega sama orangnya sampe habis badannya…”
“Tetanggaku juga ada yang kayak gitu…tapi meskipun bengek dia nyambi kerja cuci gosok…uangnya buat berobat…”
“Kalo ini lumpuh orangnya Mbak…aku gak tega lihatnya! Karena aku tidak punya biaya, aku mengkonsumsi daun sirsak…tapi kata dokter jika tidak ada perubahan harus dihentikan karena akan berpengaruh pada kandunganku…aku jadi bingung harus gimana Mbak…!”
“Hmmm…berdo’a sajalah! Tenang, masih ada ALLAH, masih ada Mbah Google pula…siapa tahu ALLAH akan memberikan pertolongan-Nya via si Mbah. Atau…entahlah! Aku juga bingung , Al…besok aku harus pergi kemana? Aku resign dari kerjaanku, dan aku gak tahu apa rencana mentahku akan berjalan mulus, atau gagal total….aku cuma nyiapin mental kalau aku sudah siap pulang kampung dan menunda studiku kalo rencanaku gatot! Itu saja…”
Kokok ayam dan adzan subuh pun membangunkanku….Ya Allaaah...!!!! A L I Y A H
“Sama2…Al, aku tidur ya! Besok aku harus bangun jam 4…”
“Iya Mbak…ma kasih banget infonya ya!”…
Dan akupun terlelap di kehangatan pulau kapuk, ketika tiba2 seorang gadis tinggi cungkring berjilbab datang menyapaku…
“Mba Arni, minta tolong sebentar cariin di internet herbal /jamu untuk penderita TBC/paru-paru,ya Mbak…!”
“HHai… Al! baiklah,…ace maxs 1 botolnya 220rb. Itu sih, gak pake herbal kali. Pergi aja ke Puskesmas/dokter…biasanya disuruh berobat jalan selama 3 bulan berturut-turut, jangan khawatir sudah ada obatnya, tetanggaku juga begitu-sembuh….”
“ini orangnya lumpuh, Mbak…”
“Panggil saja mantri atau bidan,…mereka pasti tau obat paru2…ada yang murah ada yang mahal, tinggal pilih…kecuali lumpuhnya mungkin obatnya susah….!!!!”…kataku sok tahu.
“Kenapa aku nanya herbal, Mbak…soalnya gak ada biaya sama sekali…aku lagi nyari2 tanaman obatnya, tapi sekarang agak susah di dapat tanamannya Mbak…”
Oke…sekali lagi aku tanya si Mbah, “Ciplukan…direbus dengan 3-5 gelas air, disaring, diminum 3X sehari satu cangkir…atau bisa juga daun sirsak”…jawabku
“iya itu Mbak yang aku maksud, tanaman ciplukannya susah sekali nyarinya. Terima kasih ya, Mbak! Meski aku sendiri sakit tapi aku pengen nolong orang sakit juga Mbak!” katanya
“Nyarinya ke pegunungan atau ke pesawahan coba…”saranku
“Iya Mbak…aku gak tega sama orangnya sampe habis badannya…”
“Tetanggaku juga ada yang kayak gitu…tapi meskipun bengek dia nyambi kerja cuci gosok…uangnya buat berobat…”
“Kalo ini lumpuh orangnya Mbak…aku gak tega lihatnya! Karena aku tidak punya biaya, aku mengkonsumsi daun sirsak…tapi kata dokter jika tidak ada perubahan harus dihentikan karena akan berpengaruh pada kandunganku…aku jadi bingung harus gimana Mbak…!”
“Hmmm…berdo’a sajalah! Tenang, masih ada ALLAH, masih ada Mbah Google pula…siapa tahu ALLAH akan memberikan pertolongan-Nya via si Mbah. Atau…entahlah! Aku juga bingung , Al…besok aku harus pergi kemana? Aku resign dari kerjaanku, dan aku gak tahu apa rencana mentahku akan berjalan mulus, atau gagal total….aku cuma nyiapin mental kalau aku sudah siap pulang kampung dan menunda studiku kalo rencanaku gatot! Itu saja…”
Kokok ayam dan adzan subuh pun membangunkanku….Ya Allaaah...!!!! A L I Y A H
Thursday, August 1, 2013
Serangkai Tulip Cantik
Pagi yang cerah, ketika aku terbangun dari tidur dan
kudapati cercah sinar mentari menyusup dari balik jendela kamarku yang masih
tertutup rapi. Aku menguap, malas sekali rasanya beranjakdari tempat tidur.
Sekilas kupicingkan mata ngantukku, melirik ke arah jam dinding yang berada di sebelah
kiri atas tempat tidur, jam 07.20menit.
Hmm…aku kesiangan lagi! Tak apalah, toh ini hari Sabtu, hari libur kerja.
Sedikit malas tak jadi masalah, pikirku.
Ku tatap langit-langit kamarku yang sudah
kusam warnanya. Aku menghela nafas. Tak terasa sudah 5tahun berlalu sejak ayah
dan adikku Karsim mengecat dinding rumah. Ya, aku ingat sekali! Waktu itu aku
baru pertama kali kerja sebagai guru honor di SD 3 Kertahayu, honor pertamaku yang tidak seberapa itulah yang dipakai ayah untuk membeli cat
dinding untuk mempercantik rumah. Aku tersenyum, rupanya dinding rumahku memang
sudah menagih utang ingin di cat lagi. “Sabar ya ding,…nanti kalau ada rejeki,
akan kubelikan cat baru untukmu,”pikirku.
Bergegas aku keluar kamar, mengambil handuk di jemuran halaman belakang rumah. Tidak ada siapa-siapa melainkan setumpuk baju dan piring-piring kotor di pojok halaman belakang yang sengaja ibu tinggalkan sebagai pekerjaan rumahku. Rupanya Ayah sudah pergi ke kebun sebagaimana rutinitas hariannya. Sementara adikku Karsim bekerja di sebuah toko kusen yang letaknya lumayan jauh dari rumah. Makanya, jam 7 pagi dia sudah berangkat ke tempat kerjanya. Sementara ibuku sudah sebulan ini setiap pagi pergi ke rumah Bu RT, kumpul-kumpul bareng tetangga belajar membuat baju rajut. Tinggalah aku sendiri di rumah tiap hari Sabtu dan Minggu, karena hari itu aku libur ngajar.
Bergegas aku keluar kamar, mengambil handuk di jemuran halaman belakang rumah. Tidak ada siapa-siapa melainkan setumpuk baju dan piring-piring kotor di pojok halaman belakang yang sengaja ibu tinggalkan sebagai pekerjaan rumahku. Rupanya Ayah sudah pergi ke kebun sebagaimana rutinitas hariannya. Sementara adikku Karsim bekerja di sebuah toko kusen yang letaknya lumayan jauh dari rumah. Makanya, jam 7 pagi dia sudah berangkat ke tempat kerjanya. Sementara ibuku sudah sebulan ini setiap pagi pergi ke rumah Bu RT, kumpul-kumpul bareng tetangga belajar membuat baju rajut. Tinggalah aku sendiri di rumah tiap hari Sabtu dan Minggu, karena hari itu aku libur ngajar.
Kusisir rambut lurusku satu persatu di depan kaca. Ku tatap
wajah mudaku yang baru 27 tahun, tidak ada yang istimewa . Aku memang tidak
cantik, tapi kata Ibuku aku juga tidak jelek. “Tahi lalatmu itu lho, ndok yang
bikin wajahmu manis! Bodoh saja cowok yang tidak suka sama kamu…” kata Ibuku
suatu hari ketika aku bertanya padanya apakah mukaku ini jelek, hingga sampai
sekarang belum ada satupun laki-laki yang berani mendekatiku. Tentu saja naluri
seorang Ibu akan selalu memenangkan hati anaknya. Apapun yang aku lakukan
selalu saja mendapat dukungan dan sambutan positif dari Ibu. Mungkin karena aku
tidak pernah neko-neko, selalu sederhana dan tampil apa adanya itulah yang
membuat Ibuku bangga denganku, meski aku tidak pernah mempersembahkan prestasi
yang luar biasa kepadanya.
Seusai sarapan pagi, aku bergegas ke halaman belakang mengumpulkan semua baju kotor dan menaruhnya di satu bak besar. Ku pisahkan baju yang putih dan yang berwarna, kemudian ku rendam di bak yang berbeda dengan takaran sabun cuci seperti yang diajarkan ibuku. Sementara baju ku rendam, ku cuci piring-piring dan wajan kotor bekas Ibu masak. Baru saja ku siram piring-piring tersebut dengan air, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil di depan rumah. Aku mengerutkan dahi, “siapa ya? Tumben ada mobil lewat ke sini!” Aku yang penasaran segera bergegas ke depan rumah.
Di halaman rumah, kulihat mobil box putih berhenti. Dua orang laki-laki satu kurus satu gemuk, yang tidak aku kenal turun dari mobil. Salah seorang dari mereka membuka pintu belakang box, dan mengeluarkan sesuatu dari dalam mobil dengan hati-hati. Sebuah rangkaian bunga cantik dalam pot putih bening. Tulip…tak salah lagi. Rangkaian bunga tulip, untuk siapa? Aku pun penasaran dan mendekati 2 orang tersebut.
“Selamat pagi, Bu!” sapa Bapak Kurus. “Iya, pagi Pak!” jawabku gesit.
“Benar ini rumahnya Ibu Winarti? Kami hendak mengantarkan bunga untuknya.” Jelasnya.
“Betul, Pak! Saya Winarti. Bunga dari siapa ya?” tanyaku yang merasa heran dan aneh. Apalagi selama ini belum pernah ada orang yang kirim-kirim bunga sampai ke pinggiran kota seperti tempat tinggalku.
“Pengirimnya sih tidakditulis di sini, Bu! Kami juga kurang tahu, kami dari Nisa Floris, tugas kami hanya mengantar bunga saja! Silakan diterima bunganya, Bu! Dan tolong Ibu tanda tangan di sini.” Kata Pak Gemuk sambil menyodorkan secarik kertas dan pulpen. Tanpa basa-basi lagi ku tanda-tangani secarik kertas tersebut dan kuterima rangkaian bunga tulip merah putih yang cantik itu.
Seusai sarapan pagi, aku bergegas ke halaman belakang mengumpulkan semua baju kotor dan menaruhnya di satu bak besar. Ku pisahkan baju yang putih dan yang berwarna, kemudian ku rendam di bak yang berbeda dengan takaran sabun cuci seperti yang diajarkan ibuku. Sementara baju ku rendam, ku cuci piring-piring dan wajan kotor bekas Ibu masak. Baru saja ku siram piring-piring tersebut dengan air, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil di depan rumah. Aku mengerutkan dahi, “siapa ya? Tumben ada mobil lewat ke sini!” Aku yang penasaran segera bergegas ke depan rumah.
Di halaman rumah, kulihat mobil box putih berhenti. Dua orang laki-laki satu kurus satu gemuk, yang tidak aku kenal turun dari mobil. Salah seorang dari mereka membuka pintu belakang box, dan mengeluarkan sesuatu dari dalam mobil dengan hati-hati. Sebuah rangkaian bunga cantik dalam pot putih bening. Tulip…tak salah lagi. Rangkaian bunga tulip, untuk siapa? Aku pun penasaran dan mendekati 2 orang tersebut.
“Selamat pagi, Bu!” sapa Bapak Kurus. “Iya, pagi Pak!” jawabku gesit.
“Benar ini rumahnya Ibu Winarti? Kami hendak mengantarkan bunga untuknya.” Jelasnya.
“Betul, Pak! Saya Winarti. Bunga dari siapa ya?” tanyaku yang merasa heran dan aneh. Apalagi selama ini belum pernah ada orang yang kirim-kirim bunga sampai ke pinggiran kota seperti tempat tinggalku.
“Pengirimnya sih tidakditulis di sini, Bu! Kami juga kurang tahu, kami dari Nisa Floris, tugas kami hanya mengantar bunga saja! Silakan diterima bunganya, Bu! Dan tolong Ibu tanda tangan di sini.” Kata Pak Gemuk sambil menyodorkan secarik kertas dan pulpen. Tanpa basa-basi lagi ku tanda-tangani secarik kertas tersebut dan kuterima rangkaian bunga tulip merah putih yang cantik itu.
“Terima kasih, Bu!” kata mereka sambil bergegas masuk ke dalam
mobil.
“Sama-sama, Pak!” jawabku sambil balik kanan masuk ke dalam rumah.
Ku taruh pot putih bening tersebut di atas meja. Ku pandangi serangkaian tulip cantik itu, “Siapa yang mengirim ini?” dahiku mengeryit mencoba menebak-nebak kira-kira siapa orangnya yang dengan tiba-tiba mengirim bunga untuknya. Teman perempuan? Teman laki-laki? Teman baru atau teman lama? Sama sekali blank. Tidak satu namapun terlintas dibenakku. Selama ini, teman-temanku biasa saja denganku. Tidak pernah ada perlakuan istimewa sampai mengirimi bunga segala. Apalagi ini bukan hari spesial atau hari ulang tahunku.Aku semakin bingung…siapa ya? Tahulah…akupun menyerah. Entah siapa pengirim bunga tulip misterius tanpa identitas dan tanpa ada pesan sedikitpun itu. Apa maksud dia dengan pengiriman bunga tersebut? Dia suka sama aku? Ah…mana mungkin! Memangnya aku siapanya dia? Ya sudahlah…daripada aku bingung-bingung, lebih baik kuteruskan saja pekerjaanku, mencuci piring dan mencuci baju. Biar ku simpan saja rasa penasaran ini. Mungkin besok atau lusa aku akan mendapatkan jawaban, siapa orang yang telah mengirim tulip cantik ini dan apa maksudnya?
Kerja lagi yuk…!
“Sama-sama, Pak!” jawabku sambil balik kanan masuk ke dalam rumah.
Ku taruh pot putih bening tersebut di atas meja. Ku pandangi serangkaian tulip cantik itu, “Siapa yang mengirim ini?” dahiku mengeryit mencoba menebak-nebak kira-kira siapa orangnya yang dengan tiba-tiba mengirim bunga untuknya. Teman perempuan? Teman laki-laki? Teman baru atau teman lama? Sama sekali blank. Tidak satu namapun terlintas dibenakku. Selama ini, teman-temanku biasa saja denganku. Tidak pernah ada perlakuan istimewa sampai mengirimi bunga segala. Apalagi ini bukan hari spesial atau hari ulang tahunku.Aku semakin bingung…siapa ya? Tahulah…akupun menyerah. Entah siapa pengirim bunga tulip misterius tanpa identitas dan tanpa ada pesan sedikitpun itu. Apa maksud dia dengan pengiriman bunga tersebut? Dia suka sama aku? Ah…mana mungkin! Memangnya aku siapanya dia? Ya sudahlah…daripada aku bingung-bingung, lebih baik kuteruskan saja pekerjaanku, mencuci piring dan mencuci baju. Biar ku simpan saja rasa penasaran ini. Mungkin besok atau lusa aku akan mendapatkan jawaban, siapa orang yang telah mengirim tulip cantik ini dan apa maksudnya?
Kerja lagi yuk…!
Monday, July 29, 2013
Subscribe to:
Posts (Atom)

.jpg)